SERI TELAAH KRISTEN (IV): SEJARAH YAHUDI & INJIL PERJANJIAN LAMA

Tentang berbagai fakta sejarah termasuk penulisan sejarah bangsa Bani Israil dan segala distorsinya ini, tak terelakkan juga berkembang menjadi apa yang kemudian disebut sebagai agama Kristen (Katolik-Protestan) dengan khazanah dunianya dan dengan segala tokoh-tokoh Bani Israilnya (misalnya, Nabiyullahh, Nabi Tuhan bernama Isa AS atau Yesus, semua murid langsungnya, dan Paulus/Saulus yang bukan muridnya).

Dan yang menamakan agama ini sebagai `Kristen’ ternyata bukanlah pula Isa AS (atau biasa disebut pula sebagai Yesus Kristus, namun menarik pula untuk menelaah apakah sebenarnya Isa AS dan Yesus Kritus adalah orang yang sama kiranya?) atau bahkan Tuhan sendiri; melainkan adalah Barnabas dan Paulus (Saulus) di Antiokhia, justru sepeninggal Yesus (Injil Kis 11:23-26). Paulus sendiri, bukanlah sama sekali murid Yesus, tak pernah sama sekali berjumpa Yesus, namun ‘berani’ mengangkat dirinya sebagai rasul (Roma 1:1) dan mengubah agama yang diajarkan Yesus (yang sangat dekat dengan nilai ajaran Islam) menjadi versinya (menamainya sebagai “Kristen”, lihat Kis 11:23-26), keluar dari atau menafikan Hukum Taurat ( lihat 1 Korintus 9:19-21), bahkan mempertuhankan Yesus serta menambah oknum Tuhan menjadi lebih dari satu (lihat 1 Korintus 8:6, Kolose 1:5, Timotius 2:5, dan Roma 10:9). Ini ia banyak serap juga dari Filsafat Sofisme Yunani yang khas Politeisme (paham akan banyak tuhan atau dewa) itu, dan di kemudian menjadi insprasi bangsa Eropa (Kristen) dalam Renaissance mereka pula dengan segala konsekuensinya setelah kalah dalam berbagai Perang Salib terhadap kaum muslim. Parahnya, paham Paulus, seorang Yahudi campuran ini, dipercaya dan diikuti banyak manusia hingga saat ini, yang sungguh mengira bahwa itulah yang sebenarnya diajarkan Yesus.

Dan sungguh, Yesus yang adalah seorang Rabbi (Guru Agama) Bani Israil/Yahudi dari keluarga sangat terpandang keturunan para Nabi (keluarga Imraan/Aali Imraan) dan samasekali tidak membawa ajaran baru, serta hanya berusaha mengembalikan agama Bani Israil/Yahudi yang sudah melenceng (ditegaskannya di Matius 5:17-120, Matius 5:29-30, Matius 5:34, Yohanes 8:5, dan Yohanes 8:7); TIDAK pernah diakui Bani Israil/Yahudi sebagai Nabi-Messiah mereka, atau bahkan Tuhannya sampai sekarang.

Bahkan ternyata di tangan MEREKA lah (bangsa Bani Israil-Yahudi dipimpin Rabbinya atau guru agamanya yang tak sepaham dengan Yesus), Yesus diserahkan ke Romawi untuk ‘disalibkan’, untuk dibunuh.

Dan antara lain, karena inilah, Hitler berusaha melenyapkan Yahudi dari muka Bumi, selain berbagai alasan lain yang mengganggu Jerman, menurutnya. Hitler menganggap mereka adalah bangsa yang mengkhianati, membunuh, menyalibkan Yesus, dan pada kenyataannya di Jerman pada masa itu, menurutnya mereka sudah banyak ‘mencuri’ dari bangsa Jerman.

Apapun juga (kiranya karena dimurkai Tuhan Yang Maha Esa karena membunuhi banyak UtusanNya dan mengingkari perintahNya), setelah dijajah berbagai bangsa, dicampuri ras dan peradabannya, dan juga terusir itu; bangsa Bani Israil yang terasimilasi agama, budaya, dan rasnya; semakin mengembara ke berbagai penjuru dunia, terpaksa bercampur-baur dengan berbagai bangsa (terutama dengan bangsa Eropa). Masa itu juga dikenal sebagai masa Great Diaspora (penyebaran hebat) Yahudi.

Dan kemudian selama sekitar atau seusai Perang Dunia II Abad XX Masehi saat dibantai Hitler dalam Holocaust, bangsa Yahudi hijrah dan berkembang beranak-pinak subur dan semakin berkuasa di Amerika Serikat, hingga kini.

Maka, penyesatan Yahudi dan perusakannya kepada tatanan keseimbangan dunia, sudah jauh mereka lakukan sejak sebelum Nabi Isa AS atau Yesus turun. Sadar atau tidak, ini mereka lakukan, turun-temurun dan secara berorganisasi, hingga kini.

Dan herannya, mereka masih ingin menegakkan supremasi peradaban Yahudi – Israil mereka yang sebenarnya sudah tercampur-baur itu, setidaknya berdasarkan romantisme dan kebanggan semu masa lalu mereka.

Atau malahan, justru karena mereka sudah tercampur-baur dengan berbagai ras dunia?

Sbagai perbandingan, ini adalah kutipan dari Talmud, tentang berbagai ayat indoktrinasi superioritas bangsa dan penganut Yahudi dibandingkan bangsa dan penganut agama lain. Dalam peperangan, tentara Israel wajib mendaras Talmud itu dalam kesempatan khusus, terlebih di hari Sabbath (Sabtu).

Antara lain bagian indoktrinasi itu:

– “Orang Yahudi diperbolehkan berdusta menipu Ghoyim (bangsa non-Yahudi).” (Baba Kamma 113a)

– “Semua anak keturunan Ghoyim (non-Yahudi) sama dengan binatang.” (Yebamoth 98a)

– “Seorang Ghoyim (non-Yahudi) yang berbaik kepada Yahudi pun harus dibunuh.” (Soferim 15, Kaidah 10)

– “Barangsiapa yang memukul dan menyakiti orang Israel, maka ia berarti telah menghinakan Tuhan.” (Chullin, 19b)

– “Orang Yahudi adalah orang-orang yang shalih dan baik dimanapun mereka berada. Sekalipun mereka juga melakukan dosa, namun dosa itu tidak mengotori ketinggian kedudukan mereka.” (Sanhedrin, 58b)

– “Hanya orang Yahudi satu-satunya manusia yang harus dihormati oleh siapapun dan oleh apapun di muka Bumi ini. Segalanya harus tunduk dan menjadi pelayan setia, terutama binatang-binatang yang berwujud manusia, yakni Ghoyim (non-Yahudi).” (Chagigah, 15b)

– “Haram hukumnya berbuat baik kepada Ghoyim (non-Yahudi)” 9Zhohar 25b)

Ironisnya, Bani Israil-Yahudi dan organisasi Zionisnya serta gerakan Zionisme (gerakan agar dapat kembali berkuasa di Bukit Zion di Daarussalaam atau Yerusalem) justru sedari dulu didukung dan dibesarkan bangsa Ghoyim yang tertipu muslihatnya, Amerika Serikat-Kerajaan Inggris Raya dan sekutunya, setidaknya dengan Deklarasi Blackstone 1891 AS, Deklarasi Balfour 1917 Inggris, dan Deklarasi Anglo-America Commitee 1946 Inggris-AS.

Maka selain mulai menguasai Daarussalaam (Yesusalem) dan Masjidil ’Aqsa serta menghapuskan negara Palestina, akhirnya justru merugikan induk-semangnya, Amerika Serikat dan Kerajaan Inggris Raya beserta sekutunya, setidaknya dalam nama baik dan finasial.

Sebagai catatan, gerakan Zionisme sejak akhir abad XIX Masehi bertujuan untuk mengembalikan mandat kekuasaan dan tanah kekuasaan yang diklaim Yahudi adalah miliknya, ke Bukit Zion, di Daarussalaam (Yerusalem), di sebelah Masjidil Aqsa (Solomon’s Temple), sekaligus tentunya menguasai Daarussalaam tersebut.

Menarik untuk merenungkan, bahwa setidaknya berdasarkan sejarah, sebagian kaum Yahudi juga bertendensi mengklaim Madinah al Munawarah dan Makkah al Mukaramah sebagai tanah tempat leluhur mereka juga, sebelum mereka terusir oleh karena kelakuan buruknya.

Gerakan untuk dapat menguasai tanah-tanah ini, menguasai kedua Masjid suci Islam di Makkah dan Madinah selain Masjidil Aqsa di Daarussalaam (Yerusalem), karenanya, adalah juga mungkin saja. Dan siapapun umat muslim, pantas waspada, karena Madinah dan Makkah, serta jazirah Arab, adalah wilayah yang diklaim Yahudi sebagai wilayahnya pula.

Sesudah mengalami masa hina dalam Great Diaspora (penyebaran hebat, tercerai-berai ke mana-mana), Yahudi tentu saja ingin berdaulat. Pendirian negara Israel pada tahun 1948 memakan negara Palestina sisa keKholifahan Turki Utsmaniyah-Ottoman yang bubar setelah kalah perang dalam Perang Dunia I yang dikuasai Kerajaan Inggris, dengan dibantu Inggris dan Amerika Serikat melalui berbagai kesepakatan, terutama atas imbal-balik ‘jasa’ Yahudi membantu Sekutu memenangkan Perang Dunia II, adalah momentum yang tak akan disia-siakan mereka.

Next Prev


About this entry